
Di Balik Asap Ikan Salai Sungai Musi
Kalau berkunjung ke Musi Banyuasin, Sungai Musi bukan hanya bagian dari lanskap...
Musi Banyuasin, Sumatera Selatan
Kalau berkunjung ke Musi Banyuasin, Sungai Musi bukan hanya bagian dari lanskap.
Bagi banyak masyarakat di sini, sungai adalah tempat mencari ikan, sumber penghidupan, sekaligus bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dari sanalah perjalanan kami kali ini dimulai.
Kami bertemu dengan Bu Holifah Muis, pioneer UMKM yang bersama timnya di Rumah Salai Sekayu Muba mengolah hasil tangkapan dari Sungai Musi Banyuasin menjadi ikan salai.
Dari ikan segar menjadi ikan salai
Ikan-ikan seperti lais, baung, patin sungai, lele sungai, seluang, dan berbagai ikan lokal lainnya dibawa dari para nelayan untuk kemudian diolah.
Salah satu proses yang menarik adalah ketika ikan-ikan tersebut mulai dipersiapkan untuk diasap.
Ikan dibelah satu per satu.
Ukuran dan bentuknya tidak selalu sama. Dan ternyata, membelah ikan-ikan kecil ini bukan pekerjaan yang bisa dilakukan sembarangan. Dibutuhkan ketelitian, kecepatan, dan keterampilan yang diperoleh dari pengalaman yang tidak sebentar. Bu Holifah melatih tim dengan sabarnya.
Setelah itu, ikan masuk ke proses pengasapan tradisional hingga 1-2 hari lamanya menjadi ikan salai. Produk ikan salai ini memiliki daya simpan lebih panjang dan dapat dipasarkan dalam bentuk yang berbeda dari hasil tangkapan segarnya.
Di titik ini, kami mulai melihat bahwa yang berpindah bukan hanya bentuk ikannya.
Bertambahnya variasi pengolahan, ikut meningkatkan nilainya.
Di balik proses pengolahan tersebut, ada sekelompok perempuan yang ikut bekerja.
Sebelum bergabung dalam kegiatan ini, sebagian dari mereka tidak memiliki penghasilan tambahan dan masih mengandalkan pendapatan suami.
Sekarang, mereka memiliki pekerjaan yang bisa dilakukan bersama-sama dan menghasilkan tambahan pendapatan bagi keluarga.
Ada yang membersihkan ikan.
Ada yang membelah.
Ada yang mengolah.
Ada yang menangani proses pengasapan.
Pekerjaan-pekerjaan yang mungkin terlihat sederhana, namun saat kita melihat hasil akhirnya ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak sedikit.
Dan semakin lama kami berada di sana, semakin terasa bahwa ikan salai bukan sekadar produk.
Ia adalah rangkaian pekerjaan yang menghubungkan nelayan sungai musi, pengolah, UMKM, keluarga, hingga sampai ditangan konsumen.
Satu ikan, banyak orang di belakangnya
Perjalanan ikan dari Sungai Musi ternyata cukup panjang.
Dimulai dari nelayan yang menangkap ikan.
Kemudian ikan dikumpulkan dan dibawa ke pengolah.
Di tangan Bu Holifah dan timnya, ikan tersebut mendapatkan bentuk dan daya simpan baru.
Lalu produk tersebut kembali mencari jalan menuju konsumen.
Rantai sederhana ini menunjukkan satu hal:
ketika sebuah pangan lokal memiliki pasar, semakin banyak orang yang bisa ikut mendapatkan manfaat dari keberadaannya.
Namun sebaliknya, ketika akses pasarnya terbatas, banyak potensi yang akhirnya hanya berhenti sebagai produk lokal dengan ruang tumbuh yang terbatas.
Dari sini kami mulai bertanya: ke mana ikan salai ini bisa pergi?
Dalam perjalanan di Musi Banyuasin, kami juga berdiskusi dengan Dinas Perikanan Kabupaten Musi Banyuasin.
Kami menemukan bahwa Bu Holifah bukan satu-satunya.
Ada lebih dari 90 UMKM lokal yang bergerak dalam pengolahan hasil perikanan di wilayah ini.
Artinya, persoalannya bukan apakah daerah ini punya pangan lokal.
Mereka punya bahkan banyak. Yang kemudian menjadi tantangan adalah bagaimana produk-produk tersebut dapat naik kelas dan menemukan pasar yang lebih luas.
Bagaimana produk lokal bisa memiliki kualitas yang konsisten.
Bagaimana kemasannya dapat diperkuat.
Bagaimana akses pasarnya dapat dibantu dibuka.
Dan bagaimana produk-produk ini bisa menjadi bagian dari identitas pangan daerah, hingga bukan suatu hal mustahil menjadi salah satu pilihan oleh-oleh bagi orang yang berkunjung ke Sumatera Selatan, selain pempek.
Mungkin yang perlu kita bangun bukan produknya saja.
Tetapi ekosistem di sekelilingnya.
Karena Bu Holifah dan para pelaku UMKM lainnya sebenarnya sudah memulai dari apa yang mereka punya.
Mereka punya ikan.
Mereka punya pengetahuan.
Mereka punya keterampilan.
Mereka punya jaringan dengan nelayan.
Yang dibutuhkan berikutnya adalah lebih banyak koneksi agar semua potensi tersebut bisa bergerak lebih jauh.
Dari nelayan ke pengolah.
Dari pengolah ke pasar.
Dari pasar ke konsumen.
Dan pada akhirnya, kembali memberikan manfaat bagi masyarakat yang sejak awal menjaga rantai pangan tersebut tetap hidup.
Setiap tempat menyimpan cerita yang belum sepenuhnya diceritakan.
Jelajahi cerita lainnya
