Blog

Memahami Preferensi Rasa untuk Program Makan Siang Sekolah Nasional yang Holistik

Preferensi rasa merupakan pertemuan yang menarik antara faktor biologis, pengalaman, dan budaya.

Oleh Khodijah A Zahir & M Faisal Pratama1 Oktober 2026
Memahami Preferensi Rasa untuk Program Makan Siang Sekolah Nasional yang Holistik

Apa Sebenarnya Preferensi Rasa?

Preferensi rasa merupakan pertemuan yang menarik antara faktor biologis, pengalaman, dan budaya. Preferensi ini menentukan makanan yang menggugah selera dan akhirnya kita pilih untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Memahami preferensi rasa menjadi bagian penting dalam memahami perjalanan seseorang dalam mengenal makanan. Lidah manusia dapat mengenali lima rasa dasar, yaitu manis, asam, asin, pahit, dan umami (gurih). Kelima rasa dasar ini memiliki makna evolusioner. Rasa manis sering menunjukkan sumber energi, rasa asam dapat menjadi tanda makanan telah mengalami kerusakan, garam penting bagi fungsi tubuh, rasa pahit dapat menjadi peringatan terhadap racun, sementara rasa umami menunjukkan adanya kandungan protein (National Geographic 2023).

Preferensi rasa anak secara alami dipengaruhi oleh faktor dari “dalam”, seperti kondisi biologis dan fisiologis, sensitivitas, serta gen. Faktor-faktor tersebut menjelaskan kecenderungan bawaan anak untuk menyukai rasa manis, asin, dan berlemak, serta menghindari makanan dengan rasa pahit dan asam (Reed and Knaapila 2010; Ervina et al. 2020). Sebuah penelitian menunjukkan bahwa preferensi anak terhadap rasa manis berkaitan dengan periode pertumbuhan yang cepat karena adanya peningkatan kebutuhan energi (Coldwell et al. 2009). Proses alami ini mendorong indra pengecap anak untuk menginginkan makanan manis. Selain itu, sensitivitas yang tinggi terhadap rasa pahit menjadi salah satu alasan anak kurang menyukai makanan pahit seperti sayuran (Negri et al. 2012).

Meskipun terdapat kecenderungan biologis tersebut, preferensi rasa dapat sangat personal dan berbeda pada setiap individu. Ada anak yang memang hanya menyukai makanan manis dan kesulitan mengonsumsi makanan yang tidak manis, sementara anak lainnya dapat mengonsumsi makanan pahit dan/atau asam dengan mudah. Paparan berulang terhadap rasa tertentu sejak usia dini diyakini menjadi salah satu faktor penting yang membentuk preferensi rasa seseorang. Selain itu, lingkungan anak, seperti keluarga, saudara, teman sebaya, iklan, serta akses dan ketersediaan makanan, kemungkinan turut menentukan seberapa sering anak terpapar makanan dengan rasa tertentu dan pada akhirnya membentuk preferensi rasanya (Mura Paroche et al. 2017).

Sebagai contoh, orang tua yang sibuk mungkin memiliki anak yang terbiasa dengan makanan manis dan asin karena orang tua tidak memiliki cukup waktu untuk memasak dan lebih sering memberikan makanan praktis seperti makanan instan atau makanan ringan yang umumnya mengandung gula dan garam dalam jumlah tinggi.

Perpaduan antara tradisi dan pengaruh global juga turut membentuk preferensi rasa anak. Di Indonesia, khususnya, anak-anak sudah akrab dengan cita rasa yang berasal dari warisan kuliner Indonesia. Rasa manis dan gurih hadir dalam berbagai makanan seperti kolak, hidangan berbahan santan dengan buah-buahan, dan rendang, masakan daging yang dimasak perlahan dengan berbagai rempah dan cabai. Interaksi antara rasa manis dan umami tersebut memperkenalkan anak pada karakteristik cita rasa masakan Indonesia.

Di sisi lain, globalisasi yang ditandai dengan semakin banyaknya restoran dan merek makanan cepat saji internasional turut memengaruhi indra pengecap anak-anak Indonesia dengan memperkenalkan beragam cita rasa yang cukup berbeda dari makanan tradisional. Daya tarik makanan olahan yang lebih manis, asin, dan bahkan berlemak, seperti kentang goreng dan minuman bersoda, menjadi alternatif yang dianggap lebih menarik dibandingkan cita rasa makanan warisan lokal. Selain itu, konsumsi makanan cepat saji juga dikaitkan dengan kesejahteraan dan status sosial yang tinggi.

Kebijakan pemerintah juga turut memengaruhi preferensi pangan masyarakat Indonesia. Sejak awal tahun 1970-an, Indonesia mulai memasukkan pangan berbasis gandum ke dalam konsumsi sehari-hari. Banyak masyarakat Indonesia menyukai produk olahan gandum karena beberapa alasan, termasuk fleksibilitas dalam pengolahan dan kesesuaian rasanya. Anak-anak khususnya menyukai kue atau biskuit berbahan tepung gandum dan gula dengan rasa yang sangat manis serta tambahan topping seperti cokelat berlemak, karena makanan tersebut mudah diperoleh dan tersedia di pasar pangan.

Kenikmatan sensorik yang berasal dari rasa makanan berperan penting dalam menentukan asupan makanan dan pada akhirnya memengaruhi kondisi gizi anak. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, rasa manis, asin, dan berlemak merupakan rasa yang paling banyak disukai anak. Sayangnya, lingkungan pangan saat ini didominasi oleh makanan ultra-proses (ultra-processed foods/UPF) yang mengandung gula, garam, dan lemak dalam jumlah tinggi sehingga menimbulkan kekhawatiran. Kondisi ini memberikan akses yang sangat luas bagi anak terhadap makanan yang kurang sehat.

Ditambah dengan kecenderungan alami anak untuk memilih makanan manis dan berlemak serta ketersediaan makanan dengan cita rasa yang sesuai dengan preferensi mereka, konsumsi makanan olahan pada anak menjadi semakin tinggi. Berbagai bukti menunjukkan bahwa konsumsi makanan olahan dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan terkait gizi, seperti obesitas pada anak.

Oleh karena itu, penting untuk membentuk dan mengarahkan preferensi rasa anak menuju pilihan makanan yang lebih sehat. Misalnya, preferensi terhadap rasa manis dapat dimanfaatkan untuk mendorong anak mengonsumsi lebih banyak buah. Buah tidak hanya mengandung gula alami yang dapat memenuhi keinginan mereka terhadap rasa manis, tetapi juga kaya akan vitamin, mineral, dan serat.

Sebagai salah satu kelompok yang rentan, anak usia sekolah mengalami berbagai pengaruh terkait makanan dari lingkungan sekolah karena sepertiga waktu mereka dihabiskan di sekolah. Selain itu, minimnya pengawasan dari orang tua dan guru membuka peluang bagi anak untuk mengonsumsi makanan tidak sehat secara berlebihan yang tersedia di sekitar sekolah. Dengan kondisi tersebut, diperlukan solusi yang menyeluruh untuk mengatasi persoalan ini.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekolah memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan makan yang baik pada anak usia sekolah. Dalam waktu dekat, program makan siang gratis di sekolah akan dilaksanakan oleh pemerintahan baru Indonesia. Penerapan kurikulum pangan lokal dalam program makan siang sekolah nasional dapat menjadi salah satu solusi yang lebih menyeluruh untuk membantu anak sekolah memperbaiki pilihan makanan mereka menuju makanan yang lebih sehat dan tersedia secara lokal.

Agar strategi ini dapat berjalan secara efektif, diperlukan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan terkait, termasuk pihak sekolah, guru pendamping yang kreatif, dan komite sekolah, serta hubungan yang baik dengan mitra dari komunitas. Selain itu, edukasi mengenai literasi pangan lokal perlu disampaikan dengan cara yang menyenangkan agar dapat menarik perhatian anak.

Pembelajaran melalui permainan, seperti aktivitas multisensori, dapat dirancang dalam kurikulum untuk membangun kedekatan anak dengan makanan yang mereka konsumsi melalui keterlibatan kelima indra sekaligus: penglihatan, pendengaran, sentuhan, penciuman, dan pengecap. Metode pembelajaran seperti ini telah terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan variasi makanan yang disukai anak (Kamarudin et al. 2023). Aktivitas lain, seperti kunjungan lapangan ke tempat pangan lokal dibudidayakan dan dipanen, juga berpotensi meningkatkan kesadaran dan apresiasi anak terhadap pangan sekaligus membantu membentuk preferensi makanan mereka.

Kesimpulan

Preferensi rasa merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor biologis, pengalaman, dan pengaruh budaya yang secara signifikan memengaruhi pilihan makanan dan kondisi gizi anak. Meskipun terdapat faktor biologis berupa kecenderungan alami untuk menyukai rasa manis, asin, dan berlemak, pengalaman individu, lingkungan, serta pengaruh sosial juga memiliki peran penting dalam membentuk preferensi tersebut.

Dominasi makanan ultra-proses dalam lingkungan pangan saat ini menjadi tantangan karena mendorong anak mengonsumsi makanan yang tinggi gula, garam, dan lemak. Kondisi ini menunjukkan pentingnya membentuk dan mengarahkan preferensi rasa anak menuju pilihan makanan yang lebih sehat.

Sekolah memiliki peran penting dalam mendorong kebiasaan makan yang baik pada anak usia sekolah. Penerapan kurikulum pangan lokal dalam program makan siang sekolah nasional yang akan datang berpotensi membantu anak memperbaiki pilihan makanan mereka sekaligus mengenal dan menikmati lebih banyak jenis pangan lokal yang tersedia.

 

Referensi

Coldwell SE, Oswald TK, Reed DR. 2009. A marker of growth differs between adolescents with high vs low sugar preference. Physiology & Behavior. 96:574–580.

Ervina E, Berget I, Almli V. 2020. Investigating the relationship between basic taste sensitivities, fattiness sensitivity, and food liking in 11-year-old children. Foods. 9(9):1315.

Kamarudin MS, Sharil MR, Haron H, Kadar M, Safii NS, Hamzaid NH. 2023. Interventions for picky eaters among typically developed children — a scoping review. Nutrients. 15(1):242.

Mura Paroche M, Caton SJ, Vereijken CMJL, Weenen H, Houston-Price C. 2017. How Infants and Young Children Learn About Food: A Systematic Review. Front Psychol. 8:1046.

National Geographic Society. 2023. A matter of taste. Available at https://education.nationalgeographic.org/resource/matter-taste-wbt/ (Accessed: 12 March 2024).

Negri R, Di Feola M, Di Domenico S, Scala MG, Artesi G, Valente S, Smarrazzo A, Turco F, Morini G, Greco L. 2012. Taste perception and food choices. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 54(5):624–629.

Reed DR, Knaapila A. 2010. Genetics of taste and smell: Poisons and pleasures. Prog Mol Biol Transl Sci. 94: 213–240.